Evolusi Demokrasi

Posted: 2, Oktober 2014 in Politik
Tag:, , ,

Terinspirasi dari obrolan makan siang tadi tentang sidang paripurna semalam, jari saya tergerak untuk menulis komentar tentang demokrasi di negeri ini.

Yang saya rasakan adalah demokrasi di negeri ini telah berevolusi. Acuan demokrasi adalah Sila ke-4 Pancasila yang berbunyi, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Yang perlu digaris bawahi adalah permusyawaratan perwakilan. Bahwasanya pendiri Bangsa ini menginginkan musyawarah untuk mencapai mufakad dalam pengambilan keputusan bersama. Pada jaman saya sekolah, saya diajarkan untuk selalu bermusyawarah yang nantinya akan menghasilkan keputusan bersama dalam sebuah kelompok. Contoh kecilnya adalah dulu pada saat pemilihan ketua kelas, kami diminta untuk bermusyawarah untuk memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelas. Dari sana kami belajar untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain serta pada puncaknya kami belajar tentang mementingkan kepentingan bersama diatas segalanya.

Pada jaman saya sekolah dulu, voting adalah pilihan terakhir ketika musyawarah kami tidak mencapai mufakad. Bahasa lebaynya adalah diharamkan untuk mengambil keputusan lewat voting selama masih bisa dimusyawarahkan, karena yang mempunyai koalisi terkuatlah yang akan menang.

Pengambilan keputusan demi kepentingan bersama itu telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tahukah anda tentang kisah peletakan Hajar Aswad? Singkat cerita, pada saat pembangunan Ka’bah telah memasuki tahap akhir, kaum Quraisy berselisih paham tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad Tersebut. Sampai akhirnya datanglah Nabi Muhammad SAW sebagai pengambil keputusan. Apa yang beliau lakukan? Beliau membentangkan sorbannya dan meletakkan Hajar Aswad diatas sorbannya, kemudian meminta para pemimpin kaum Quraisy memegang ujung sorban tersebut yang selanjutnya para pemimpin kaum Quraisy tersebut mengangkat sorban itu bersama untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Apa jadinya jika keputusan yang diambil tidak mengakomodir kepentingan bersama? Akan terjadi pertumpahan darah dari kaum Quraisy pada saat itu.

Bagimana dengan pengambilan keputusan dan demokrasi di negeri ini? Mengacu pada sidang paripurna DPR tadi malam, dapat terlihat model demokrasi yang telah berevolusi. Sebagian besar pengambilan keputusan dalam kelompok dilakukan dengan voting. Hasilnya? Walk out bagi yang tidak menerima keputusan, saling menjelekkan bahkan memfitnah, dan puncaknya mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan bersama.

Demokrasi negeri ini telah berevolusi. Semoga kedepan bisa berjalan ke arah yang lebih baik.

 

Jakarta, 02 Oktober 2014.

Ditulis sambil menonton laga Persib vs Malaysia Selection

Pertanyaan ini sempat terlintas beberapa kali dalam pikiran. Pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Pertanyaan yang sering muncul ketika aku sedang gundah. “Bisakah kenangan dilupakan? Bagaimana caranya? Jika iya, aku ingin menghilangkan kenangan-kenangan buruk dalam masa laluku…” pertanyaan-pertanyaan itu sempat berkecamuk dalam pikiran, sampai akhirnya…

Suatu sore di bulan Juli 2014…

Aku pulang dari kantor. Jam 17.00 aku sudah mendarat dengan sempurna di kamar dengan beberapa takjil di kresek dan makanan untuk berbuka puasa. Rasanya masih lama menunggu saat-saat buka puasa di Jakarta. Masih sekitar 55 menit lagi.

Aku memutuskan untuk menyempatkan diri mencuci pakaian sembari menunggu buka puasa tiba. Kemudian tidak berapa lama aku sudah berada di kamar mandi, berkutat dengan cucian dan tangan yang dipenuhi busa detergen. Kemudian aku terhenti sejenak, terhenti setelah aku hendak mencuci kemeja kotak-kotak kombinasi hitam-coklat. 5 detik aku terdiam… Kemudian aku merentangkan kemeja itu, aku tersenyum melihatnya dan menarik nafas panjang…

Aku membilas tanganku yang penuh busa kemudian meletakkan kemeja itu kembali dalam bak. Dan tanpa sadar aku dibawa kemeja itu ke masa lalu.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu ketika kebetulan aku pulang ke rumah dalam rangka libur semester, tiba-tiba ada kemeja itu di meja belajar kamarku.

“Ini kemeja buat aku?”, tanyaku.

“Iya, barusan itu beli sama bapak pas jemput ibu pulang. Cobain gih…”, sahut ibuku dalam kamarnya.

“Eh cocok nih”, teriakku dalam kamar.

“Mana…. Mana… Coba liat”, sahut ibuku.

“Tuh kan cakep dipakenya. Pake itu waktu kuliah, kayaknya bajumu udah lecek semua”

“Hahaha, siap laksanakan. Ini yg keren bukan bajunya, tapi orangnya” jawabku ngasal.

Kemudian satu jeweran mendarat sempurna di telinga sebelah kananku. “Awwwww… Hahaha”

Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Dan alam bawah sadarku kembali memutar memori-memori masa lalu. Aku kembali memandang kemeja itu…

Malang 2013, aku dan kemeja ini berangkat pagi-pagi menembus dinginnya kota Malang untuk ikut seleksi salah satu perusahaan tambang. Siangnya masih pada hari yang sama pengumuman keluar, dan coba tebak!!! Gagal.

Masih dengan kemeja yang sama, aku ingat betul saat itu. Pukul 06.00 pagi memacu motor berangkat dari Malang dengan jemari kaku karena kedinginan menuju kawasan industri Rungkut Surabaya untuk test wawancara. Total 6 jam perjalanan bolak-balik Malang-Surabaya kala itu. Dan setelah 2 minggu kemudian, masih belum ada kabar yang artinya aku harus kembali menelan pil pahit aku kembali gagal.

Entah berapa banyak job fair yang aku ikuti bersama kemeja ini. Dan hasilnya? Gagal… Gagal… Dan gagal… Bisa dibilang kemeja ini adalah saksi perjuangan hidupku sampai akhirnya aku berada di titik ini.

Luapan air dari dalam bak cucian membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum kecil mengigat memori di masa lalu dan kemudian aku menyadari bahwa sebenarnya memori itu tidak dapat dihapus dari pikiran kita. Deep down inside our brain, kenangan-kenangan itu masih tersimpan rapi. Seperti yang kita ketahui bersama, otak manusia tidak ada batasnya. Dimana batasnya? Bergantung pikiran kita. Bahkan seorang Albert Einstein yang kecerdasannya luar biasapun, hanya memakai kurang dari 20% dari otaknya. Namun kenangan-kenangan itu menjadi susah diingat karena belum ada trigger untuk mengeluarkan ingatan ini kembali.

Aku menemukan jawaban ini ketika mencuci baju! Iya ketika mencuci baju…

So let us left the memory behind and move up.

 

Jakarta, 2014

Ditulis sambil menunggu waktu imsak

Beberapa tahun yang lalu, gue rasa itu merupakan tahun yang sulit dalam kehidupan gue. Tahun dimana gue harus menanggung kehidupan gue sendiri saat itu, sementara gue juga berkewajiban untuk menyelesaikan kuliah S1 gue. Tahun dimana gue harus bisa membagi waktu antara kuliah dan mencari nafkah untuk hidup. Tahun dimana pagi-pagi gue harus menempuh jarak 5 Km menembus dinginnya kota Malang menuju kampus, kemudian menempuh jarak 15 Km menuju tempat kerja gue setelah kuliah pagi, dan sore atau malamnya gue harus kembali menempuh 15 Km menuju kampus untuk melanjutkan kuliah. Tahun dimana gue harus begadang sampai pagi untuk mereview materi kuliah dan menyelesaikan tugas-tugas dari kampus. Tahun dimana gue harus menerima kenyataan bahwa gaji 600 ribu gue harus cukup menghidupi gue selama sebulan kedepan. Tahun dimana gue ngga bisa tidur nyenyak gara-gara kepikiran “besok gue makan apa?”

Saat itu memang gue mengeluh, gue menggerutu dalam doa. Gue menceritakan kepada Sang Maha Kuasa beratnya kehidupan gue saat itu karena hanya Dia-lah yang dapat merubah keadaan. Gue merasa lelah dengan kehidupan saat itu. Sempat terlintas dalam pikiran gue untuk menyerah. Sampai akhirnya pada suatu kesempatan, gue bertemu sahabat gue dan tanpa sengaja atau mungkin itu jawaban dari doa gue selama ini. Dia menceritakan sebuah buku dengan judul Mimpi Sejuta Dolar.

“You should read that book”, kata sahabat gue mengakhiri ceritanya.

“Lo punya? Pinjem deh kalo lo punya, gue tertarik pengen baca”, timpal gue.

Dan sejak saat itu, gue meluangkan waktu untuk membaca buku itu. Semakin gue baca, semakin gue sadar bahwa hidup adalah sebuah perjuangan tanpa henti. Untuk meraih sesuatu yang kita inginkan butuh pengorbanan dan tekad dengan segala konsekuensinya. Buku ini bercerita tentang kisah nyata perjuangan seorang Merry Riana dalam meraih mimpinya. Mahasiswa berkantong pas-pasan yang kuliah di negeri orang yang berhasil meraih penghasilan 1 juta dolar di usia 26 tahun. Banyak pelajaran hidup yang gue dapatkan dari buku ini, pelajaran tentang indahnya sebuah perjuangan yang berujung pada kesuksesan. Dan sejak saat itu gue bangkit, gue memantapkan hati untuk tetap berjuang apapun konsekuensinya.

Beberapa hari yang lalu ketika gue iseng-iseng membuka timeline twitter, ada twit Merry Riana yang mengadakan meet and great di salah satu Gramedia di Jakarta. Sore itu tanpa pikir panjang gue langsung bergegas untuk menuju lokasi. Dengan busway, kendaraan sejuta umat warga ibukota, gue menembus padatnya jalanan Jakarta sore itu. 1 jam gue terhimpit diantara kerumunan manusia dalam busway. Sampai akhirnya gue berhenti shelter busway di depan Gramedia tempat meet and great berlangsung.

Gue bergegas masuk, langsung menuju lantai 2 tempat acara berlangsung. Toko buku ini tidak seperti biasanya, kali ini ramai dengan pengunjung. Dan di salah satu sudut ruangan terdapat antrian yang cukup panjang. Gue langsung menuju antrian itu, melangkah maju selahkan demi selangkah dan akhirnya gue bisa melihat sosok wanita cantik yang wajahnya tidak asing lagi. Gue bertemu Merry Riana!!! Inilah salah satu alasan mengapa gue senang hidup di Jakarta. Gue dipersilahkan duduk di sebelahnya, dia tersenyum ramah ke arah gue dan gue membalas senyumannya. Ini dia Merry Riana, wanita cantik yang telah menginspirasi gue untuk terus berani melangkah sampai akhirnya gue berada di titik ini.

Gue menceritakan dengan singkat pengalaman hidup gue yang sampai akhirnya gue menjadi gue yang sekarang.

“Setelah saya membaca buku Miss Merry, saya merasa malu kepada diri saya sendiri karena perjuangan hidup saya ternyata tidak ada apa-apanya dibanding berjuangan hidup Miss Merry”,  gue mengakhiri cerita singkat gue.

“Hidup memang tidak pernah mudah, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai kesuksesan. Jangan pernah menyerah”, kata Merry Riana kepadaku.

“Terima Kasih telah menginspirasi”, sahut gue.

From Merry Riana

Jakarta, 2014

Welcome in Jakarta

Posted: 15, Mei 2014 in Story of My Life

Setiap pagi saat gue bangun dari tidur, gue bahkan ngerasa masih bermimpi. Gue ngerasa setiap hari adalah keajaiban. Gue sekarang di Jakarta, kota yang gue impikan sejak gue kuliah dulu. Ajaib! karena gue ngga nyangka bakalan secepat ini impian gue terwujud. Ajaib! karena hari ini adalah hari yang dulu gue bilang “suatu saat nanti” dan sekarang menjadi kenyataan.

Ditengah keputusasaan gue terhadap penolakan-penolakan perusahaan yang sudah gue apply, gue akhirnya berlabuh di industri telekomunikasi, industri yang tidak pernah gue pikir sebelumnya. Industri yang merupakan keajaiban dalam kehidupan gue.

Dalam prosesnya memang banyak hal-hal diluar nalar sampai akhirnya gue ada di titik ini. Mulai dari ketidaksengajaan apply perusahaan ini, sampai interview user yang aslinya bukan bidang gue namun apa yang ditanyakan pewawancara adalah obrolan santai gue dengan temen gue tentang telekomunikasi. Ajaib!!!

Keiajaiban hidup gue ngga sampai disitu saja. Pekerjaan gue sekarang di bidang jaringan yang aslinya gue ngga terlalu mendalami. Semasa kuliah gue dipaksa kurikulum kampus untuk memprogram 2 mata kuliah jaringan tingkat lanjut. Dulunya gue selalu ngeluh dengan 2 mata kuliah jaringan ini karena itu yang menghambat gue lulus tepat waktu. Ajaibnya justru 2 mata kuliah itu yang gue pakai di pekerjaan gue, 2 mata kuliah itu yang membuat gue lebih mudah menjalani pekerjaan gue sebagai network engineer di industri ini.

Ucapan syukur alhamdulillah tiada hentinya gue ucapkan kepada Allah SWT yang telah membimbing gue sampai di titik ini. Allah memang selalu punya rencana indah dalam setiap kehidupan kita. Gue udah ngerasain sendiri hal itu. Dulunya gue terlalu banyak mengeluh, padahal sebenarnya Allah mempersiapkan kehidupan yang lebih baik buat gue di kemudian hari. Sejatinya kita harus bersyukur atas apa yang udah kita dapat saat ini karena dibalik apa yang kita alami tidak lain adalah rencana indah-Nya. Maha suci Allah dengan segala firmannya.

Hey dunia, apa kabar? Pastinya kamu tetep berputar seiring berjalannya waktu tanpa menghiraukan apa yang terjadi.

Jika engkau bertanya balik bagaimana kabarku, aku baru saja bangkit dari kubur. Aku mati suri selama setahun terakhir. Aku terkubur bersama impian-impian yang belum terwujud. Berada dalam kegelapan dalam waktu yang lama. Namun sekarang aku perlahan sudah terbangun dari mati suriku, aku sudah bangkit dari kuburku. Aku telah menemukan secercah cahaya harapan dan aku berusaha menggali kembali impian-impian yang telah terkubur. Berusaha menatanya kembali dan perlahan mewujudkannya.

Terima kasih waktu telah membangkitkanku dari kematian ini.

Sampingan  —  Posted: 28, Agustus 2013 in Uncategorized

Sabar adalah Kuncinya (I)

Posted: 8, September 2011 in Story of My Life
Tag:, ,

Kamis, 08 September 2011. Pagi ini aku tidak merasakan dinginnya kota malang yang biasanya menusuk tulang meskipun sejak pukul 03.30 pagi aku sudah terbangun dari tidurku. Agenda hari ini adalah pengisian KRS di kampus.

Jam 07.00 aku sudah bersiap untuk berangkat karena ingin menyelesaikan pengisian KRS dalam waktu sehari. Estimasi waktu KRS sampai jam 11.00 pagi karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Setelah mencetak surat kuasa teman untuk KRS, saya langsung menuju kampus. Benar saja, sudah banyak mahasiswa yang mengantri untuk mengambil sajian mata kuliah.

Sejauh ini proses pengambilan sajian masih lancar dan sesuai rencana. Namun semester ini sangat berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Ada hal yang tidak biasa ketika aku melihat jadwal kuliah yang akan diambil. Hal yang sangat penting buat kita sebagai mahasiswa. Hal yang menentukan nasib kita semester ini. Hal yang terkadang membuat kita menarik nafas panjang karena lega atau ketakutan. Dan keadaan ini memaksa kami untuk menarik nafas panjang sembari berharap bahwa dosen yang mengajar kami bukan dosen yang killer. Baca entri selengkapnya »

Setelah mengkaji pernyataan Bapak Marzuki Alie tentang pembubaran KPK dan pemaafan koruptor, saya dari hati yang paling dalam setuju dengan pernyataan Bapak Marzuki tersebut asalkan,

KPK dibubarkan dan koruptor dimaafkan dengan syarat ketika ada orang yang terbukti korupsi, langsung diganjar dengan hukuman mati tanpa remisi dan wajib mengembalikan semua uang hasil korupsinya kepada Negara.