Goooool….. teriak kami di kamar kos ketika Firman Untina menambah keunggulan Indonesia 3-0 terhadap Laos dalam perebutan Piala AFF 2010. Dan tiba-tiba aku tersadar akan ada yang bergetar di sebelahku. Aku melihat hpku berkedip tanda ada 2 panggilan tidak terjawab. Spontan aku mengambil hpku dan melihat siapa yang meleponku. Aku melihat nama Angga yang tertera dalam hapeku. Sahabatku sejak TK. Dalam hatiku berkata, “Tumben anak ini telepon? Sampe 2x pula. Biasanya juga bales sms aja pelitnya minta ampun.” Selang beberapa detik kemudian ada sms masuk dari Angga, “Bro, dimana? Temenin aku ketemu si Dydit di kampus sekarang yuh… Aku tunggu di gedung matek”. Dydit ini adalah cewek kecengan Angga yang berparas cantik, anggun, mepesona dan tergila-gila dengan dunia fotografi. “oke, aku otw”, sms balasanku pada Angga.
Hujan sepertinya menjadi sahabat setiaku, kemana aku pergi hujanpun dengan setia mengiringi. Dalam perjalanan ke kampus malam itu, hujan setia mengikuti serta membasahi jaket usangku. Kala itu ada acara penutupan pekan seni dan olahraga di Teknik Elektro dan disaat yang sama ada juga pementasan teater dari Universitas Negeri Solo di Pertanian. Tak lama kemudian aku sampai di kampus dan bertemu Angga, sahabatku. Sepintas tak ada yang aneh dari penampilannya, namun aku merasa aneh atas benda yang dia pegang. Setangkai mawar merah yang masih segar. Dengan wajah yang berseri-seri dia mengatakan, “ayo ke pertanian. Dia ada acara disana”. Sahabatku yang satu ini memang selalu punya cara-cara unik dalam mengungkapkan isi hatinya (meskipun kebanyakan orang bilang hal itu aneh) dan pada kenyataannya belum pernah ada cewek yang menerima cintanya.
Setibanya di Pertanian, kami membuat kesepakatan. Kesepakatannya adalah aku kenalan, ngobrol dan mengakrabkan diri juga dengan kecengannya. Barulah setelah kita akrab, aku tinggalkan mereka berdua untuk nonton pementasan dan angga memberikan mawar merahnya dan kita pulang. Acara selesai sampai disini. It’s the deal. Dan tiba-tiba telepon Angga berdering. Owh, aku merasa itu chemisty dari Dydit karena baru saja kita sampai dia sudah telepon. Ternyata dugaanku salah total, telepon itu dari ayah Angga. Aku tertawa cekikikan ketika Angga mengatakan yang telepon bukan Dydit, tapi ayahnya. Dan Angga kembali menelepon seseorang dan dia berkata, “Aku udah di pertanian nih”. Sesingkat itu dia bicara di ujung telepon. Dan aku berpikir bahwa sahabatku yang satu ini pelitnya minta ampun masalah pulsa. Namun mungkin cinta membalikkan semuanya. Dan dengan nada tergesa-gesa Angga bilang, “Bro, mawarku mau aku taruh dimana? Jangan sampe ketahuan Dydit duluan nih klo aku mau ngasih mawar”. Aku menatap Angga dengan seksama, memandang tubuh kecengnya yang aku rasa tidak mungkin menyembunyikan mawar itu kecuali aku yang bawa. Namun aku lihat kantong celananya dan spontan saja aku selipkan tangkai mawar itu dalam kantong celananya.
Sapaan hangat terdengar di telingaku. “Hey mas, ayo masuk”. Nampak wajah Dydit yang cantik berseri-seri memandang kita berdua. Dan tanpa pikir panjang aku ulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, “Dany”. Dan Dydit menjawab, “Dyta. Temennya mas angga ya?” Aku hanya melempar senyuman ke arahnya. Hanya sampai disitu obroloanku dengan Dydit. Selanjutnya Angga yang ngobrol. Mereka berdua tidak sama sekali memperhatikan pertujukannya dan begitupun tidak memperhatikanku. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin sudah berencana jalan-jalan keluar negeri atau apa aku tidak mengerti. Aku merasa seperti jangkrik yang diam sendirian. Krik..krik..krik… (ini diluar kesepakatan dan skenario) dan tiba-tiba Angga meminta aku untuk memindahkan motor ke tempat parkir yang aman. Dengan muka datar aku pindahkan motorku ke tempat parkir yang aman.
Aku melihat mereka berdiri berdua dari kejauhan. Mungkin mereka merasa dunia milik mereka berdua, yang lain pada ngekos. Entah kebetulan atau apa, Angga tiba-tiba menoleh ke arahku dan aku langsung menunjuk gozebo karena sudah kosong. Dan dengan reflek Angga mengajak Dydit duduk di gazebo itu. Baru aku menaruh pantatku di gazebo, tiba-tiba Angga berbisik pelang, “Bro, mawarku jatuh ngga tau dimana. Kamu cariin ya…” Dengan menarik nafas panjang aku berdiri dan mulai mencari dimana jatuhnya mawar itu. Malam itu memang malam yang apes buatku, setelah dikacangin, penderitaan berlanjut ke pencarian mawar yang hilang. Aku merekonstruksi kemana Angga berjalan sampai duduk di gazebo. Dan setelah lama mencari aku menemukan mawar tergeletak di tanah. Mawar yang akan merubah kehidupan sahabatku. Aku menemukannya didepan kursi tempat mereka duduk. Aku berdiri diatas mawar itu jatuh tepat didepan mereka duduk. Untunglah mawar itu masih utuh dan aku langsung sms Angga melaporkan jika mawar itu sudah aku temukan. Aku mendengar hp Angga berbunyi tanda smsku masuk, namun dia tidak ada balasan (sudah kebiasaan pelit pulsa). Beberapa saat kemudian dia memintaku duduk di sebelahnya. Dan aku berpikir jika aku ambil sekarang mawarnya, bisa kelihatan Dydit dan tidak akan menjadi surprise buatnya. Aku hanya menganggukkan kepala pada Angga. Dan kemudian setelah aku lihat Dydit lengah, aku buru-buru mengambil bunga mawarnya dan pergi ke tempat duduk mereka. Aku taruh mawar merahnya di sisi sebelah kiri angga dan Dydit di sebelah kanannya dan aku berkata, “Tugasku sudah selesai”.
Aku membuka hp dan mengeset wifi. Setelah mendapatkan username dan password dari Angga akhirnya aku bisa mengakses facebook. Baru aku buka halaman homeku, malah dia mengajakku cabut. Aku kembali menarik nafas panjang. Pelajarannya adalah kita harus berkorban dan siap menderita demi sahabat kita. Sengaja aku tinggal mereka agar Angga memberikan mawarnya dan kita selesai. Namun setelah aku dekati mereka dengan membawa motor, ternyata Angga belum juga memberikannya.
“Kita mampir di elekto dulu, aku mau ngasih bunganya. Soalnya barusan ngga enak sama temennya”, kata Angga. Aku lantas menarik gas untuk menuju elektro dan kita berhenti di belakang panggung acara penutupan pekan seni elektro. Entah apa yang ada dalam pikiran Angga saat itu, mungkin kenekatan dan gejolak yang sangat luar biasa. Dia mengambil mawar merah yang diselipkan di kantong celananya dan dia berikan ke Dydit dengan kata-kata sederhana dan (menurutku) datar, “ini buat kamu…”. Dydit sangat kaget dan hanya mengucapkan sepatah kata, “makasih ya…” dan Dydit menghilang di kejauhan dengan motornya.





hehhehe..
gokil bro !!,,
je’ mun angga,,
den beden..
iya begitulah teman kita yang satu itu…
hahaha
Mellasnya panjenengan kang..haha..neserrah…cerita yang gokil…tapi tak apa..demi sahabat,,,nice..lanjutkan.!!!
ahahaha
ya demi sahabat kang…
ngga masalah…
hihihi