Dany Satriya Kennedy Weblog

7, Oktober 2008

Alasan Mengapa Orang Madura Diidentikkan dengan Kekerasan

Diarsipkan di bawah: Madura — Tag: — kennedyfreedom @ 8:41 pm

Paradigma yang salah tentang orang Madura yang diidentikkan dengan kekerasan, masih melekat dalam benak insan tanah air. Padahal tidak ada fakta konkret tentang hal itu yang bisa secara gamblang menjelaskan bagaimana sebenarnya watak orang Madura. Banyak hal yang mempengaruhi pandangan mereka tentang masyarakat Madura. Mari kita ulas satu-persatu.

Karena Madura merupakan daerah yang panas dengan alam yang gersang dan kering, menyebabkan orang-orang Madura mempunyai type pekerja keras, sederhana, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Hal ini menyebabkan orang-orang Madura marah ketika ada sumberdaya alam yang terbuang percuma dan mereka sungguh sangat menyesal ketika tidak dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik.

Karena Madura terkenal dengan “Carok”. Carok sebenarnya berasal dari kebiaasaan yang disalah tafsirkan oleh orang-orang sebagai budaya Madura. Carok dipicu oleh permasalahan yang bersangkutan dengan “harga diri”, “masalah harta terutama tanah”, dan “istri”. Jika ada salah satu dari ketiga hal ini dialami oleh warga Madura “kuno”, maka meletuslah carok. Carok pada dasarnya berkelahi menggunakan senjata tradisional Madura yaitu “celurit”. Kedua orang ini bersaing untuk saling melukai, dan pada saat ada salah satu yang telah terluka maka selesailah carok tersebut. Mereka tidak melanjutkan carok ketika ada salah satu yang terluka, mereka tidak sampai hati membunuh musuh yang telah terluka. Namun sebagian besar orang yang terluka karena carok akan mati. Saat ini sudah jarang dan bahkan sudah tidak ditemukan lagi di Madura, sehingga sudah tidak dibenarkan apabila Madura masih diidentikkan dengan carok.

Karena latar belakang orang Madura adalah pelaut dan wilayah Madura dikelilingi laut serta mayoritas masyarakat Madura yang merantau ke daerah-daerah lain berada di pesisir sehingga apabila mereka berbicara selalu nyaring karena harus melawan kerasnya terpaan angin laut. jika mereka tidak berbicara dengan keras, maka kemungkinan apa yang mereka bicarakan tidak akan terdengar oleh lawan bicaranya.

& Komentar »

  1. seharusnya carok di masyarakat madura saat ini dihilangkan karena dapat menimbulkan image “jelek” kepada masyarakat madura itu sendiri.

    Komentar oleh danu — 9, Oktober 2008 @ 11:32 pm

  2. Budaya kekerasan (baca : Carok) bukan semata “punya” orang Madura aja. Toh masih setiap etnis punya sisi “keras” serupa meski dengan lain istilah.
    Melihat dan menilai orang Madura semata-mata dari sisi “ini” saja, tentu sangat tidak Fair.
    Budaya estetik, keramahan, kelembutan dan keindahan yang demikian melimpah dimiliki orang Madura seolah dipinggirkan.
    Stereotipe ini mesti di re-perspeksi. Karena selama ini figur orang Madura cuma apa yang dilihat dalam format informasi dan publikasi pop (macam film, sinetron, karikatur, anekdot) yang jelas sepihak dan tidak komprehensif..
    Celakanya, publikasi semacam ini seolah di-amini banyak pihak..dan orang yang tidak paham akan menerima mentah-mentah semua “pem-figuran” tersebut tanpa berusaha memahami fakta sebenarnya.
    Lebih celaka lagi..Reng Madhura Dhibi’,tidak banyak berbuat untuk meluruskan stereotip yang negatif itu (Mungkin termasuk saya..duh !!). Kalaupun ada, (bagi sebagian lain yang peduli) akan seperti angin lalu.. sekali berarti, sudah itu mati.
    Sak Bursik Tellora Birsa..
    Sapa se Sake’ xxxx’ , xxxxx- ngolpa..!!

    Sakalaangkong sadajana.

    Komentar oleh sonny t atmosentono — 17, Oktober 2008 @ 3:00 pm

  3. kami mengajak anda untuk join komunitas detikmadura
    kirimkan foto + biodata ke redaksi@detikmadura.com

    kami ucapkan terima kasih .. :)

    best regards
    http://www.detikmadura.com

    Komentar oleh detikmadura — 22, Oktober 2008 @ 3:23 pm

  4. Allah berfirman :”Inna akromakum indakum atqookum”, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling taqwanya kalian.

    Allah berfirman: “Kami (Allah) menciptakan kalian (manusia) terdiri dari laki-laki dan perempuan dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bergolongan-golongan tujuannya untuk saling mengenal”

    Sifat baik-buruk ada di setiap manusia karena itu adalah apresiasi dari kecenderungan jiwa yang secara naluri Allah berikan kepada manusia ciptaanNya, siapapun dari manapun asalnya kalau Akliyah-nya (Kerangka berfikir) diisi dengan dasar iman kepada Allah semata sifat-sifat buruk akan tereduksi dan yang tampak budi yang luhur akhlaq yang mulia… siapapun itu madura-kah, sunda-kah, dayak-kah, batak-kah, apapun sukunya. Jadi kita jangan terlalu mengagungkan suku kita asal nenek moyang kita dari mana kita, fitrah kita sebagai manusia semata-mata menghamba (ibadah) kepada Allah.

    Wassalamu’alaikum
    Reng Madura-Sunda

    Komentar oleh Asep Koswara — 17, Desember 2008 @ 3:41 pm

  5. terima kasih mas danu, abang sonny t atmosentono, detikmadura, dan akang Asep Koswara atas tanggapannya.

    image kekerasan yang telah melekat pada mind set sebagian besar orang indonesia sebenarnya bisa dirubah dengan sikap pemuda-pemuda madura yang mencerminkan tindakan positif, cinta damai, dan mengutamakan akal dari pada emosi.
    semoga kita bisa menjadikan madura yang lebih baik.

    Komentar oleh kennedyfreedom — 21, Desember 2008 @ 9:53 pm

  6. saya sudah biasa mendengar orang-orang bercakap dengan keras dan kuat..tujuannya supaya saya bisa dengar dan memahami apa yang dituturkan oleh orang itu..justeru itu saya tiada apa-apa masalah dengan hal itu..kerana teman-teman saya yang lain ada juga yang tutur katanya yang agak kasar dan kuat macam orang mahu berkelahi…tetap kami masih bisa menjadi teman…kata orang hal kecil sahaj dong..

    Komentar oleh roy — 12, Agustus 2009 @ 9:59 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.